9 comments on “Kenalan Sama Airbus Corporate Jet, ACJneo Family…

  1. ACJ dan BBJ memang menyasar ke segmen “rombongan besar” diatas 15 orang, biasanya yg kayak gini kan rombongan kenegaraan, sementara yg seperti Gulfstream lebih ke corporate/private jet yg jumlah rombongannya paling cuma 5-10 orang. Ini demi menjaga kenyamanan (dan kemewahan) penumpangnya tetap dalam taraf maksimum selama flight.

    Soal jarak tempuh ya nggak bisa dibanding dg versi komersil lah, kan total bobot muatannya bisa separo yg komersil
    *emangnya bizjet juga angkut cargo? 😀

    • suara mesin jet pesawat angkut haji 747-400 yg 4 mesin itu,

      kok ngak seberisik batik lion air 737 yg cuma 2 yach?

    • lagi lepas landa om , liat dari rumah darah cijantung denger suarnya ngak berisik gitu

      dan juga mau turun,

      pas kemaren liat dari pom pertamina depan nestle,

      juga ngak berisik

    • Secara timing, saat take-off memang cukup mewakili utk mengukur tingkat kebisingan (saat engine full power). Namun yg sering kita tidak ketahui adalah kondisi dari masing2 pesawat spt: bobot total saat take-off, karena bobot pesawat saat take off dg penumpang penuh (plus kargo), separo dan sepetiga akan mempengaruhi beban kerja tiap engine (“ngeden” atau “ecess”). Dan kondisi spt ini akan berbeda dari satu flight ke flight berikutnya.
      Bahkan panjang landasan juga berpengaruh lho, dimana kalau panjang landasannya “mepet” [pilot juga akan cenderung “push the engine to the max” agar segera airborne (ngangkat dari bumi secepatnya) walapun bobot total muatan sebenarnya mungkin cuma separo.

      Utk sederhananya saya coba sederhanakan dg asumsi baik B747 maupun B737 take-off sama-sama dg muatan penuh, dan panjang landasan juga lebih dari cukup.

      B747-400 :
      total daya dorong engine = 4 x 280.000 N = 1.120.000 N —> Thrust (T)
      bobot max take off = 390.000 kg —> Weight (W)
      Thrust to Weight Ratio (TWR) yg dialami seluruh engine = T/W = 2,87 N/kg

      B737-900ER :
      total daya dorong engine = 2 x 120.000 N = 240.000 N —> Thrust (T)
      bobot max take off = 80.000 kg —> Weight (W)
      Thrust to Weight Ratio (TWR) yg dialami seluruh engine = T/W = 3 N/kg

      Dari analisa kasar diatas kertas bisa “dirasakan” bahwa engine B737 terkesan lebih “ngeden” dibanding B747 saat keduanya take-off, dan umumnya ini berbanding lurus dg kebisingan engine yg terdengar oleh manusia sekitarnya

      Again, bicara kebisingan maka harusnya kita bicara dalam satuan “decibel”, alat ukurnya tahu kan ya? 😀

      Oh iya, satu lagi, soal generasi teknologi. B747-400 (dan engine-nya) itu “angkatan 70-an” sementara B737-900ER masuk “angkatan 2000-an”, maka IMHO, kalau saja pesawat batik/lion itu engine-nya masih pake teknologi generasi yg sama dg B747-400, bayangan saya T/W nya akan mendekati 4. 😉

Bila ini dari sudut pandang saya, bagaimana dengan sudut pandang Anda...??

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s